Menu ✖

Mode Gelap

Inflasi Kepri Melandai ke 3,49 Persen, Harga Pangan Kembali Jadi Perhatian

3 Okt 2026 · 11:04 WIB ·


					Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P. Foto:Istimewa Perbesar

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P. Foto:Istimewa

Tekanan inflasi di Kepulauan Riau mulai mereda pada September 2026. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Kepri turun menjadi 3,49 persen dari 3,87 persen pada Agustus.

Meski demikian, tekanan harga kembali terlihat dalam pergerakan bulanan. Pada September, Kepri mengalami inflasi 0,27 persen secara bulanan (mtm), berbalik dari deflasi 0,17 persen pada Agustus.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P mengatakan perkembangan tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.

“Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat sinergi untuk stabilitas inflasi di Kepri,” kata Rony dalam siaran pers Perkembangan Inflasi Kepri Periode September 2026, Jumat, 2 Oktober 2026.

Rony menjelaskan, tekanan inflasi bulanan terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok tersebut mencatat inflasi 0,88 persen dengan andil 0,26 persen terhadap inflasi Kepri.

Kenaikan harga cabai merah, kangkung, cabai rawit, dan daging ayam ras menjadi pendorong utama. Terbatasnya panen dari sejumlah daerah sentra produksi di Sumatera bagian Utara dan Jawa turut menekan pasokan hortikultura.

Sementara itu, permintaan yang meningkat di tengah pasokan yang terbatas mendorong kenaikan harga daging ayam ras.

Tekanan harga juga datang dari kelompok pendidikan yang mengalami inflasi 0,41 persen dengan andil 0,03 persen. Kenaikan tersebut antara lain berkaitan dengan pendaftaran ulang perguruan tinggi pada September.

Namun, kenaikan inflasi bulanan tertahan oleh kelompok transportasi yang mengalami deflasi 0,25 persen. Penurunan tarif angkutan udara terjadi seiring masuknya periode low season setelah berakhirnya lonjakan permintaan pada musim liburan.

Jika dilihat secara tahunan, kenaikan harga emas perhiasan masih menjadi penyumbang terbesar inflasi Kepri dengan andil 0,44 persen.

Selain emas, angkutan udara memberikan andil 0,30 persen, bensin 0,27 persen, nasi dengan lauk 0,26 persen, serta beras 0,18 persen.

Menurut Rony, tingginya harga emas perhiasan berkaitan dengan perkembangan harga emas global. Sementara tarif angkutan udara dan harga bensin masih berada di atas level tahun sebelumnya.

Harga nasi dengan lauk juga masih relatif tinggi. Kondisi itu berkaitan dengan akumulasi kenaikan harga pada periode sebelumnya serta biaya bahan baku dan faktor produksi yang masih tinggi.

Dengan inflasi 3,49 persen, tekanan harga di Kepri masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen pada September 2026. Bank Indonesia mencatat inflasi nasional pada bulan tersebut sebesar 0,30 persen secara bulanan.

Secara spasial, inflasi tahunan terjadi di seluruh wilayah penghitungan IHK Kepri.

Kota Batam mencatat inflasi 3,65 persen, Kota Tanjungpinang 3,76 persen, sedangkan Kabupaten Karimun berada pada 1,63 persen.

Posisi Kepri juga masih relatif tinggi dibandingkan sejumlah provinsi di Sumatera. Dengan inflasi 3,49 persen, Kepri berada di posisi kelima, setelah Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, dan Sumatera Barat.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun tekanan inflasi tahunan mulai menurun, struktur harga di Kepri masih menghadapi tantangan dari komoditas pangan, energi, transportasi, hingga emas.

Memasuki Oktober, Bank Indonesia melihat sejumlah risiko yang dapat kembali menekan inflasi.

Rony menyebut volatilitas harga emas dunia masih perlu diwaspadai, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik.

Risiko lain berasal dari tekanan imported inflation serta potensi kenaikan harga komoditas hortikultura, terutama cabai merah dan cabai rawit.

Untuk meredam tekanan tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kepri terus memperkuat program stabilisasi harga dan pasokan pangan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Sejumlah langkah telah dilakukan sepanjang September, antara lain High Level Meeting TPID se-Provinsi Kepri, Rapat Koordinasi TPID Kota Batam, penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) secara rutin di berbagai kabupaten/kota, serta penyaluran sarana dan prasarana ketahanan pangan kepada kelompok tani unggulan.

Rony mengatakan penguatan produksi pangan, pasar murah, kerja sama antardaerah, serta koordinasi pengendalian inflasi akan terus dilakukan hingga akhir tahun.

Targetnya, inflasi Kepri tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 persen pada akhir 2026.

Penulis:Rega|Editor:Damri

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Facebook Bagikan ke Line Salin tautan artikel
Baca Lainnya

OJK Hubungkan Pelaku Usaha Perikanan Natuna dengan Sumber Pembiayaan

3 Oktober 2026 - 20:20 WIB

OJK Hubungkan Pelaku Usaha Perikanan Natuna dengan Sumber Pembiayaan

Navigasi Volatilitas Komoditas Utama di Tengah Ketidakpastian Global

2 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Navigasi Volatilitas Komoditas Utama di Tengah Ketidakpastian Global
Trending di Bisnis

Tinggalkan Komentar